Tuesday, December 8, 2009

Jatuh ya pasti pucat dong ...

Ceritanya, Boim ingin membawakan oleh-oleh semangka buat istri tercinta yang baru dinikahinya sepekan lalu. Sepulang kerja, dengan Vespa butut hasil warisan ayahnya, mampirlah Boim ke pasar buah di dekat rumahnya. Boim langsung menuju seorang pedagang semangka yang rupanya berasal dari Madura.

"Kak, berapa harga sekilo semangka tanpa biji," tanya Boim.

"Tiga ribu lima ratus," jawab si pedagang.

"Mahal amat," timpal Boim.

"Tidak mas, semangka ini kualitas nomor satu. sudah tanpa biji, saya jamin pasti manis dan segar rasanya. Lihat saja warnanya yang merah," tegas si pedagang sambil memperlihatkan contoh buah semangka yang sudah dibelah.

Tanpa pikir lagi, Boim langsung memilih semangka yang kira-kira beratnya dua kilo. Setelah transaksi, Boim menstater dan melarikan Vespanya bak pembalap motoGP karena ingin secepatnya tiba di rumah.

Naas, di sebuah perempatan tak jauh dari rumahnya, Boim terlibat kecelakaan. Dan, semangka yang baru dibelinya pecah berantakan di jalan. Herannya, Boim tampak marah dan merasa tertipu setelah melihat buah semangka ternyata berwarna putih yang menandakan rasanya tidak manis dan kurang segar. Dengan kemarahan luar biasa, Boim kembali ke pedagang buah tempatnya membeli semangka.

"Kak, sampeyan ini jualan kok menipu. Semangka gak enak, kok digembar-gemborkan manis dan segar. Ayo kembalikan uang saya," damprat Boim sambil memperlihatkan buah semangka yang hancur.

"Lho, sebentar. memangnya apa yang terjadi, kok semangka ini hancur berantakan," ujar si pedagang.

"Untung, sebelum sampai di rumah, saya kecelakaan, sehingga tahu bahwa semangka yang sampeyan jual ternyata gak sesuai promosi," jelas Boim.

"Sampeyan ini gimana sih. Orang saja kalau jatuh dari sepeda motor pasti pucat kok, apalagi semangka. Ya pasti pucat!!"


Jangan Boros Pakai Gigi


Ada seorang bapak dari desa Anu di dekat Sorong (Irian Jaya) mendapatkan undian dari sebuah produk makanan. Ternyata ia mendapatkan sebuah sepeda motor keluaran tahun terakhir. Tentu saja sang Bapak sangat senang dan bangga karena di desanya jangankan sepeda motor, sepeda kumbang pun jarang yang punya.

Singkat cerita sang Bapak pun mengajak anak laki-lakinya yang baru kelas 6 SD untuk berkeliling desa naik motor tersebut. Diperjalanan sang anak heran karena ayahnya kok terus menerus pakai gigi satu gas pun terus dipacu sampai bunyinya menderu -deru tapi sang Bapak tersebut tidak mengoper ke gigi dua.

Akhirnya sang anakpun protes "Pak, giginya itu diganti...!" tapi anehnya sang Bapak tidak menuruti malah memacu gas hingga suara mesin motor tersebut sudah mirip suara Singa yang mengaum. Melihat hal tersebut sang anak kembali protes dengan nada yang sama "Pak, giginya itu diganti...lah !" berkali-kali.

Mendengar protes yg bertubi-tubi dari anaknya akhirnya sang Bapak pun menjawab dengan nada setengah marah " Hai Nak, kamu boros sekali!! Gigi satu dulu dipakai sampai habis baru pakai gigi dua..!"